Langsung ke konten utama

Politik Islam dan Kemenangan Anis-Sandi


Dunia maya sejak tadi pagi diramaikan dengan politik DKI. Putaran kedua Pilkada DKI semakin menambah sejarah terkait politik dan politik Islam di Indonesia. Kenapa?. Ya, karena perjalanan Basuki (Ahok) dicalonkan menjadi Gubernur bukanlah perjalanan yang singkat.

Seperti sahabat Lisa Aditia Putra , aku pun seharian mencari referensi dan setumpuk berita terkait politik Islam di Indonesia. Terutama bagi mereka yang mengikuti aksi, baik 212 dan lain sebagainya. Karena, serentetan aksi yang dilaksanakan dari tahun lalu sangat terkait dengan pencalonan Ahok sebagai Gubernur DKI.

Di sela-sela kesibukan itu, ikut melihat siaran langsung dari kompas TV dan media massa lainnya. Baik melalui Youtube atau Twitter. Hasil hitung cepat Litbang Kompas Pilkada DKI putaran kedua 400 TPS sampel bukan hasil dari KPU menunjukan bahwa 58% suara memilih Anis-Sandi. Sedangkan 42% lainnya, memilih pasangan Ahok-Djarot.

Kemenangan ini diapresiasi banyak pihak. Terutama kubu-kubu pendukung pasangan Anis-Sandi. Partai Gerindra jelas memiliki senyuman kebahagiaan atas kemenangan ini. Setelah berbagai cara yang dilakukan untuk menolak Ahok, baik menggunakan agama atau tokoh agama kubu Anis-Sandi akhirnya berhasil meraih kursi DKI I.

Yang jelas, pasangan Anis-Sandi telah menghentikan penolakan Ahok sebagai pemimpin kafir. Surat Al-Maidah 51 pun telah berlalu. Lha mau protes apa lagi?. Wong Ahok sudah bukan Pemimpin lagi.

Perbincangan ini sempat aku bahas dengan satu sahabat ketika kita berada di Student Center UIN Suka. “Seandainya Ahok yang menang kayaknya lebih seru. Bakal berlanjut perbincangan Al-quran, agama, tokoh agama, bahkan perbincangan NKRI,” kataku sambil Scroll twitter dan mencari-cari apa yang dikatakan petinggi partai pendukung kedua calon Gubernur.

“Sebenarnya masalahnya bukan Anis atau siapa yang menang. Kalau Ahok yang menang ya sudah otomatis akan ada demo lagi,” begitu responnya dengan santai (nama disembunyikan).

Kemenangan Anis-Sandi yang menambah catatan sejarah politik Islam di Indonesia harus kita dukung. Karena itu menjadi pilihan rakyat. Seperti yang dikatakan Abraham Lincoln bahwa demokrasi sejatinya untuk rakyat itu sendiri.

Namun walau begitu, semoga saja perdebatan politik tidak terhenti hanya karena Ahok tidak terpilih menjadi Gubernur. Masyarakat Indonesia harus lebih cerdas dalam membaca situasi politik.

Tidak terpilihnya Ahok semoga saja bukan karena politik Islam yang menganggap kekafiran Ahok. Namun memang Anis-Sandi memiliki tawaran lebih baik dalam hal pembangunan. Sehingga dengan ini, kontrol sosial tetap berjalan dan tidak berhenti.

So, semoga saja kritikan-kritikan membangun dari masyarakat tetap menghiasi kepemimpinan Anis-Sandi. Karena Anis-Sandi terpilih bukan karena dia masuk surga atau tidak, tapi karena mereka juga memiliki kompetensi untuk menjaga kebhinekaan dan semangat NKRI. Semoga... Salam Pilkada Damai..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selamatkan Bangsa dengan Menolak LGBT

LGBT (lesbian,gay,bisexual,dan transgender)adalah salah satu jenis penyimpangan sosial. penyimpangan (deviant) ini terjadi karena pengaruh dari lingkungan sosial atau bisa jadi seseorang yang melakukannya dikarenakan pengaruh dari keluarganya.masalah sosial ini mendapatkan perhatian dari masyarakat. bahkan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa juga mengikuti rapat kerja dengan Komisi VIII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (16/02/2016). (sindonews.com). Masalah LGBT harus segera diatasi. baik oleh masyarakat maupun oleh individu. pentingnya kesadaran diri akan perilaku menyimpang adalah salah satu jalan keluarnya. namun yang masih jadi hambatan adalah pelaku LGBT itu merasa benar atas perilakunya. padahal dalam islam sendiri sudah dijelaskan bahwa melakukan hubungan sex sesama jenis adalah perilaku menyimpang. tidak hanya dalam agama,didalam Norma dan Nilai yang terkandung dimasyarakat perilaku ini adalah perilaku yang menyimpang. pasalnya manusia dicip...

“ Melek Media, Di Era Rezim media”

Maraknya kejahatan serta seks bebbas yang dilakukan oleh masyarakat terutama anak muda saat ini seharusnya mendapatkan perhatian. Baik dari pemerintah maupun kaum intelektual itu sendiri. Apalagi banyak muda-mudi jaman sekarang ini sibuk memikirkan masalah hati (Pacaran) dibanding menndongkrak prestasi dalam kehidupan. Anak muda yang akan menjadi generasi penerus bangsa kedepannya. Apabila anak muda terus hanyut dengan arus modernisasi yang terjadi, apa jadinya negri ini kedepannya?. Mereka sibuk dengan masalah percintaan. Disibukan oleh arus globalisasi terkait 3F “Food, Fun, and Fashion”. Kejadian akhir-akhir ini yang paling memprihatinkan adalah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang sahabat kepada sahabatnya sendiri hanya karena saling berebut kekasih hati. Hal ini dilakukan oleh anak muda. Kejadian seperti ini sudah bukan menjadi Rahasia publik. Dan alangkah baiknya kita, sebagai masyarakat tidak menutup mata dengan fenomena seperti ini. Sudah saatnya pemerintah dan...

Menyoal Kehidupan Anak Kos

Anak kos sebagai sebutan bagi mereka yang merantau dan memisahkan diri dari keluarganya. Entah demi suatu pekerjaan atau demi menuntut ilmu ke luar daerah. Bisanya ia tinggal dan memilih menjadi anak kos karena rumah dan tempat ia bersekolah lumayan jauh dan tidak bisa terjangkau. Akhirnya, sebagai bentuk efisiensi waktu, ia memilih nge-kos di daerah terdekat dengan tempat ia menuntut ilmu. Anak kos memiliki ciri khas dan pola hidup tersendiri. Hidup dengan berbagai pilihan. Yang pasti ia harus bisa memilih untuk bisa me- management segala sesuatu. Baik waktu, uang, serta management untuk berinteraksi dengan teman disekitarnya. Karena kehidupan anak kos biasanya identik dengan kebebasan. Apabila ia tidak bisa me- manange kebebasan ini, maka ia akan gugur dalam perjalanan hidupnya. berbicara soal pola hidup dan management kehidupan anak kos, aku teringat dengan pendapat salah satu kakak tingkat tentang terbaginya anak kos terutama mereka yang menjadi mahasiswa. pertama, anak k...