Langsung ke konten utama

“ Melek Media, Di Era Rezim media”


Maraknya kejahatan serta seks bebbas yang dilakukan oleh masyarakat terutama anak muda saat ini seharusnya mendapatkan perhatian. Baik dari pemerintah maupun kaum intelektual itu sendiri. Apalagi banyak muda-mudi jaman sekarang ini sibuk memikirkan masalah hati (Pacaran) dibanding menndongkrak prestasi dalam kehidupan.

Anak muda yang akan menjadi generasi penerus bangsa kedepannya. Apabila anak muda terus hanyut dengan arus modernisasi yang terjadi, apa jadinya negri ini kedepannya?. Mereka sibuk dengan masalah percintaan. Disibukan oleh arus globalisasi terkait 3F “Food, Fun, and Fashion”.

Kejadian akhir-akhir ini yang paling memprihatinkan adalah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang sahabat kepada sahabatnya sendiri hanya karena saling berebut kekasih hati. Hal ini dilakukan oleh anak muda. Kejadian seperti ini sudah bukan menjadi Rahasia publik. Dan alangkah baiknya kita, sebagai masyarakat tidak menutup mata dengan fenomena seperti ini.

Sudah saatnya pemerintah dan masyarakat itu menyadari, bahwa perubahan sosial yang terjadi saat ini tidak bisa dibendung lagi. Perubahan sosial yang terjadi menurut william ogburn’s salah satu penyebabnya adalah kemajuan teknologi. Teknologi yang berkembang pesat saait ini menjadi pengaruh besar terhadap karakter Masyarakat.

Di indonesia sendiri teknologi sudah semakin marak, salah satunya teknologi yang disajikan oleh media masa. Media masa dalam menyajikan informasi tidak lagi hanya melalui Radio & Surat Kabar, tetapi sudah berkembang ke televisi yang notabene lebih menarik serta memiliki layanan yang lebih dibanding Radio dan surat kabar, karena ia menampilkan gambar serta suara dalam menyampaikan informasi.

Namun seiring dengan kemajuan teknologi sendiri, media masa yang seharusnya ikut berperan penting untuk kepentingan publik malah menjadi Rezim tandingan bagi pemerintah serta masyarakat itu sendiri. Terbukti dari tayangan-tayangannya yang disuguhkan kepada msyarakat. Penayangan sinetron percintaan yang terlalu berlebihan membangun opini publik terutama bagi anak muda yang tidak faham adanya Rezim media, bahwa percintaan hanya sebatas laki-laki dan perempuan. Padahal makna cinta itu sesungguhnya sangat luas dan tidak terbatas hanya antara laki-laki dan perempuan muda saja. Apalagi dalam pacaran, makna cinta itu sendiri menjadi sangat sempit artinya.

Selain tayangan sinetron, beberapa tayangan infotaiment diindonesia juga tidak mendidik. Seperti lelucon yang dihasilkan dari bullying juga menjadi konsumsi masyarakat yang disajikan oleh media. Bahkan dalam berita sekalipun, media cenderung Tidak Independen. Ia cenderung berpihak kepada siempunya media demi keuntungan politik dan ekonomi. Padahal dalam 9 elemen jurnalistik yang dikemukakan “Bill Kovach” indepedensi dalam sebuah jurnal sangat diperlukan.

Media masa, treutama televisi masa kini hanya menampilkan tayangan-tayangan yang tidak mendidik, karena ia harus bersaing ketat dalam industri pertelivisian. Media masa yang menguasai opini publik seharusnya bisa menyajikan tayangan-tayangan yang mendidik untuk kepentingan masyarakat dan kemajuan bangsa. Masyarakat sendiri harus berfikir kritis dan menjadi pengamat tentang apa yang disajikan media, bukan hanya sekedar menjadi penikmat apa yang disajikan oleh media itu sendiri. Sehingga masyarakatpun tidak mudah terbawa arus.

Peran pemerintah juga sangat penting dalam hal ini, penegakan hukum yang tegas terhadap Pers dan Penyiaran sangat diperlukan. Agar media masa dalam menyajikan tayangan-tayangannya tidak merusak moral bangsa. Namun dengan harapan media masa bisa menyajikan tayngan-tayangan yang mendidik apalagi buat anak muda. Anak muda sebagai penerus bangsa kedepannya. Bukan malah merusak moral dengan tayangan-tayangannya. Karena jika anak muda bangsa ini sudah dirusak moralnya, Mau jadi apa Bangsa ini kedepannya?.

Oleh: Tri muryani, Sosiologi 2015 Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan kalijaga Yogyakarta Yk, 5 januari 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendidikan dan Implementasi Pancasila

Pendidikan dan Implementasi Pancasila Oleh: Tri Muryani*) Bukanlah hal yang mudah, untuk mengimplementasikan pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dan bisa menjadi acuan bagi kemajuan bangsa Indonesia. Apalagi saat ini arus globalisasi begitu cepat menjangkiti negara-negara diseluruh dunia termasuk Indonesia. Arus demokratisasi, hak asasi manusia, neo-liberalisme, serta neo-konservatisme bahkan telah memasuki cara pandang dan berfikir masyarakat indonesia. Hal demikian bisa meminggirkan pancasila dan dapat menghadirkan sistem nilai dan idealisme baru yang bertentangan dengan kepribadian bangsa. Bahkan tidak hanya itu, pancasila sedikit demi sedikit telah terlupakan oleh masyarakat kita. Mulai dari banyaknya masyarakat yang tidak mengetahui kandungan pancasila, terutama masyarakat pedesaan yang sebagian besar kesulitan untuk mengakses pendidikan. Selain Dehumanisasi, dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya pun begitu. Banyaknya kasus korupsi yang menyeret tokoh politi...

Transformasi Nilai Ramadan

Transformasi Nilai Ramadan Oleh: Tri Muryani*) Satu Ramadhan tahun ini yang jatuh pada tanggal 6 juni 2016 dan bertepatan dengan hari Senin membuat kebanyakan masyarakat terutama kaum muslimin merasa antusias untuk menyambutnya. Beberapa persiapan dari makanan sampai jadwal kegiatan seperti buka bersama, telah di persiapkan selama bulan Ramadhan oleh masing-masing individu dan kelompok demi tujuan spiritual. Menurut kuntowijoyo dalam bukunya islam sebagai Ilmu (2007) menerangkan bahwa ilmu tauhid tentang ketuhanan tidaklah berhenti pada konteks ketuhanan saja, meliankan ada tanggung jawab sosial seorang individu setelah ia beribadah kepada tuhannya yaitu tanggung jawab kepada realitas sosial yang ada. Seperti yang terkandung dalam Al-Quran surat Al-Imran (3): 110 tentang konsep humanisme, liberalisme, dan transendental. Nilai-nilai spiritual dalam konsep bertauhid yang di masiv kan selama bulan Ramadhan memang terlihat bagus. Namun yang menjadi krisis sosial dikalangan masyaraka...