Wonosobo adalah sebuah kabupaten di daerah jawatengah. Kabupaten yang terletak ditengah dan berbatasan dengan kabupaten Temanggung, Magelang, Purworejo, Kebumen dan Banjarnegara ini memiliki tagline “ASRI” ( Aman, Sehat, Rapi & Indah). Di kabupaten ini terdapat sebuah desa didekat perbatasan Kabupaten BanjarNegara. Mergosari namanya. Desa yang berdekatan dengan kabupaten BanjarNegara.
Desa yang dulunya terpencil, sekarang sudah mengalami perubahan yang signifikan. Sepertinya arus modernisasi juga tidak bisa dibendung lagi untuk masuk kewilayah ini. Dari bangunan rumah-rumah warga yang mulai nampak megah. Serta cara msyarakat sekitar bersosialisasi. Cara-cara hidup orang perkotaan yang dipakai oleh masyarakat sekitar. Mungkin cara seperti itu memang bagus, karena tidak mungkin selamanya kita akan menjadi masyarakat yang primitif. Seiring berjalannya waktu, masyarakat juga harus menyesuaikan diri dengan keadaan sosial yang ada. Termasuk warga masyarakat desa mergosari.
Namun yang sangat disayangkan adalah budaya lokal yang terancam hilang seiring dengan arus modernisasi yang diterapkan. Para petani sudah mulai mengganti profesinya menjadi pedagang atau lebih memilih pergi ke perkotaan mengadu nasib demi meningkatkan status sosialnya. Walhasil sebagian lahan di pedasaan pun sekarang sudah digantikan dengan suasana rumah-rumah bertembok.
Memang tidak jarang yang meraih kesuksesan ketika mereka mengadu nasib ke perkotaan atau mengganti profesi mereka dari petani menjadi pedagang. Karena profesi petani yang sesungguhnya sangat penting dianggap sebelah mata oleh masyarakat. Ini juga menjadi faktor sendiri mengapa para petani mengganti profesinya. Tapi juga sangat disayangkan, desa yang sudah berswasembada ini dalam perubahannya terbawa arus globalisasi.
Transformasi dari luar sangat mempengaruhi keadaan sosial yang ada. Akibatnya semakin kesini gaya hidup masyarakat sekitarpun mulai berubah. Dahulu pada tahun 2005, didesa ini kita masih bisa menikmati pemandangan siswa-siswi SD, SMP, bahkan SMA berjalan kaki menuju sekolahnya. Jalanan pun setiap pagi diramaikan oleh para pelajar yang berangkat sekolah bareng dengan temannya.
Namun, pada tahun 2016 ini, pemandangan itu tidak bisa lagi kita jumpai. Hampir setia KK didesa Mergosari mempunyai Minimal satu kendaraan bermotor. Memang dengan mengikuti arus modernisasi, bisa mempercepat kinerja apapun. Namun, alih-alih mempercepat kinerja malah membuat masyarakat menjadi manusia yang cenderung individualis. Seiring dengan berjalannya waktu anak SD pun yang dahulunya berangkat sekolah bareng dengan temannya , kini di antar oleh orang tuanya. Apalagi anak SMP, mereka membawa sepeda motor sendiri ketika berangkat sekolah. Bahkan seperti yang kita tahu, bahwa anak SMP belum mempunyai Surat Izin Mengemudi (SIM), karena memang faktor umurnya belum mencukupi. Itu sudah menjadi pelanggaran tersendiri.
Belum lagi sekolah yang memungut tarif parkir bagi siswa-siswinya. Akibat dari banyaknya siswa yang membawa kendaraan bermotor kesekolah. Bahkan ada salah satu SMP disekitar Mergosari menerapkan tarif parkir sebesar RP. 90.000/bulan. Bisa dibayangkan logika kapitalisnme yang masuk beriringan dengan arus Modernisasi. Tumpang tindih yang sangat merugikan masyarakat. Logika kapitalisme dalam pendidikan ini tidak sejalan dengan Misi bangsa dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Masyarakat (IPM) indonesia.
Pada tahun 2007 IPM indonesia sebesar 0.728. masih menempati urutan ke 108 dari 179 negara yang ada. Meskipun angka ini mengalami peningkatan dibanding tahun 2005 (0.697) namun prestasi itu masih kurang signifikan. Filipina berada diurutan 84, thailand (73), & malaysia (61). (Abdullah Badri : 2012).
Jumlah warga buta aksara di indonesia juga masih tinggi. BPS & DEPDIKNAS melaporkan bahwa warga yang buta Aksara diIndonesia pada tahun 2007 sebesar 18.7 juta orang, yang 4.35 juta diantaranya adalah usia produktif dan sebagian besar perempuan (lebih dari 70%). (kompas, 27/12/2007).
Desa mergosari yang ada diwonosobo ini hanya sebagian kecil dari bagian indonesia. Bagian kecil dari indonesia ini saja kita bisa melihat logika kapitalisme masuk beriringan dengan arus Modernisasi. Jika pendidikan sudah dimasuki dengan logika kapitalisme maka hanya orang-orang dari kalangan mampu saja yang bisa menikmatinya. Kalau pendidikan tidak tersebar secara merata, bagaimana bangsa ini akan meningkatkan IPM nya? Mustahil bukan?.
Perlunya kesadaran dari masyarakat dan Pemerintah setempat akan femomena sosial ini. Dalam kajian sosiologi arus Glocalisasi lah yang paling tepat untuk menyeimbangi arus globalisasi yang ada. Glocalisasi adalah pengangkatan sesuatu yang lokal agar bisa diterima secara global. Pentingnya menyadari hal ini agar masyarakat yang menjadi masyarakat yang modern tanpa harus menggunakan budaya lain dan meninggalkan budayanya sendiri. Bangga dengan budaya lokal, apalagi membawa budaya lokalnya agar diterima secara global.
Dari sini kita bisa menciptakan industri kreatif di daerah pedesaan. Termasuk didaerah mergosari ini. Dengan membangun sektor industri kreatif, masyarakat pun mempunyai peluang untuk bekerja di desanya sendiri tampa harus pergi ke perkotaan. Mengolah hasil dari pertanian yang ada menjadi sesuatu yang memiliki nilai jual yang tinggi. Seperti mengelola buah salak menjadi makanan berbentuk “kripik salak”. Industri kreatif seperti ini akan meningkatkan ekonomi masyarkat tanpa harus meninggalkan budaya di masyarakatnya. hasil Industri kreatif yang dikemas secara modern akan otomatis menjadikan hasil dari petani lokal memiliki nilai jual yang tinggi.
Lagi-lagi hal seperti ini akan mudah dilakukan apabila ada kerja sama antara pemerintah setempat, pegawai kelurahan serta kesadaran masyarakat itu sendiri. Apabila semuanya bisa bekerja sama maka IPM secara tidak langsung akan naik dan bangsa kita bisa bersaing dalam dunia global. Desa pun akan menjadi desa yang kreatif & modern tanpa harus mengikuti arus modernisasi global saat ini.
Oleh: Tri Muryani sosiologi 2015
Fakultas Ilamu Sosial dan Humaniora
Universitas Islam negri Sunan KaliJaga Yogyakarta
Komentar
Posting Komentar