Langsung ke konten utama

”Salah Aksi akibat Salah Arti”


Budaya patriarki yang selama ini terjadi dikalangan masyarakat membuat ketidakstabilan antara hubungan laki-laki dan perempuan itu sendiri. Budaya patriarki adalah budaya yang dimana seorang laki-laki merasa kedudukannya lebih tinggi dibanding kan dengan perempuan. Sikap seperti ini membuat sorang laki-laki berhak menentukan apa saja yang diinginkannya dari seorang perempuan. Sikap seperti ini tidak hanya dilakukan oleh mereka yang sah secara agama sebagai Suami Istri. Namun juga tidak sedikit dalam Prakteknya seorang muda mudi yang sedang menjalin kasih sayang yang biasanya di sebut dengan kata “pacaran” juga mempraktekan budaya patriarki.

Budaya seperti ini memang sudah ada sejak Zaman dahulu. Bahkan dalam agama sekalipun seorang istri wajib untuk menghormati suaminya. Hal ini di tegaskan dalam sebuah hadist Nabi SAW, Beliau bersabda : “jika seorang wanita selalu menjaga sholat lima waktu, juga berpuasa sebualan (dibulan Ramadhan), serta betuk-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat kepada Suaminya, maka dikatakan kepada Wanita yang memiliki sifat mulia Ini, “masuklah kedalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka”. (HR. Ahmad 1 :191 dan Ibnu Hibban 9:471. Syaikh syu’aib al Amauth mengatakan bahwa hadist ini shahih).

Dalam hal ini, penafsiran yang lebih lanjut seharunya dilakukan. Karena saat seorang istri harus menaati sang suami, yang jadi pertanyaan adalah Suami yang seperti apakah yang harus Ditaati? Sejauh mana seorang istri harus taat kepada suaminya? Serta pertanyaan-pertanyaan lain yang menjadi penegas bagaimana taat yang seharunya. Peninjauan lebih lanjut itu sangat penting mengingat sebagian kaum Adam sering men-salah artikan kata “taat kepada suami” itu sendiri. Sehingga dalam kenyataannya banyak sekali seorang istri yang menjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Atau seorang Pemudi yang menjadi korban kekerasan dalam pacaran (KDP).

Data dari LSM Rifki Annisa (salah satu LSM yang melindungi perempuan di yogyakarta), menyatakan bahwa ada sekurang-kurangnya 400-500 korban kekerasan yang dialami oleh perempuan. Ini berarti setiap hari akan ada 1-2 perempuan yang menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki itu sendiri. Ini adalah sebuah fakta yang miris, mengingat di zaman modern seperti ini masih kuat buada patriarki yang dianut oleh masyarakat.

Sehingga menjadi wajar, ketika seorang perempuan menuntut kesetaraan gender. Emansipasi yang dilakukan oleh kaum perempuan bukan semata-mata omong kosong belaka. Namun dipengaruhi oleh faktor-faktor penyebab seorang perempuan menuntut kesetaraan dalam hal gender. Hal ini juga menjadi wajar, ketika seorang yang memperjuangkan hak perempuan diberi gelar sebagai “Pahlawan kemerdekaan” oleh presiden Sokarno pada tanggal 2 mei 1964 memlalui Kepres RI no 108 Tahun 1964. Ialah R.A Kartini.

Sebenarnya, R.A kartini menuntut adanya kesetaraan Gender bukan karena ingin menyaingi hak kaum Adam, namun menurut beliau seorang perempuan itu harus juga diberi kesempatan yang sama terutama dalam hal pendidikan. Bukan karena ingin menyingkirkan kaum Adam atau ingin menjadikan perempuan lebih tinggi derajatnya di banding Kaum Laki-laki, namun agar bisa menjalankan kewajibannya dengan sebenar-benarnya. Kewajiban yang di serahkan alam sendiri kepadanya.

Salah satu surat R.A Kartini yang perlu untuk direnungi dan difahamkan saat seorang perempuan ingin menuntut kesetaraan berbunyi seperti ini : “kami disisni memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan bagi anak-anak perempuan, bukan sekali-kali kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tetapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum perempuan. Agar perempuan lebih cakap dalam menjalankan kewajibannya. Kewajiban yang diserahkan alam sendiri kedalam tangannya. Menjadi ibu pendidik manusia yang pertama-tama” (kpd. Prof Anton & nyonya, 4 oktober 1902). (elfatino febriana : 47)

Tulisan R.A Kartini ini perlu dijadikan Referensi saat seorang wanita ingin menyuarakan kesetaraan Gender. Bukan hanya untuk perempuan itu sendiri, melainkan juga penting untuk direnungi oleh laki-laki. Sehingga ketika seorang laki-laki Merasa dirinya lebih tinggi derajatnya dibanding perempuan sehingga budaya patriarki itu dianutnya, seharunya ia sadar bahwa perempuan yang mendampingi dalam hidupnya adalah Orang pertama yang akan mendidik anak-anaknya. Kemana dan mau dijadikan apa kelak generasi penerusnya. Sehingga apabila kedua-duanya sudah merasa saling melengkapi, tidak akan ada lagi rasa dirinya lebih tinggi dari yang lain.

Tri Muryani sosiologi 2015 Yk 31 desember 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Cinta Untuk Starla (Lyric)

Ku tuliskan kenangan tentang caraku menemukan dirimu Tentang apa yang membuatku mudah berikan hatiku padamu Tak kan habis sejuta lagu untuk menceritakan cantikmu Kan teramat panjang puisi ... tuk menyuratkan cinta ini Telah habis sudah cinta ini Tak lagi tersisah untuk dunia Karna tlah ku habiskan sisa cintaku hanya untukmu Aku pernah berfikir tentang hidupku tanpa ada dirimu Dapatkah lebih indah dari.. yang kujalani sampai kini Aku selalu bermimpi tentang indah hari tua bersamamu Tetap cantik rambut panjangmu meskipun nanti tak hitam lagi Bila habis sudah waktu ini Tak lagi berpijak pada dunia Telah aku habiskan sisa hidupku hanya untukmu Dan tlah habis sudah cinta ini tak lagi tersisa untuk dunia Karena tlah ku habiskan sisa cintaku hanya untukmu Bila musim berganti Sampai waktu terhenti Walau dunia membenci Ku kan tetap di sini....

Selamatkan Bangsa dengan Menolak LGBT

LGBT (lesbian,gay,bisexual,dan transgender)adalah salah satu jenis penyimpangan sosial. penyimpangan (deviant) ini terjadi karena pengaruh dari lingkungan sosial atau bisa jadi seseorang yang melakukannya dikarenakan pengaruh dari keluarganya.masalah sosial ini mendapatkan perhatian dari masyarakat. bahkan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa juga mengikuti rapat kerja dengan Komisi VIII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (16/02/2016). (sindonews.com). Masalah LGBT harus segera diatasi. baik oleh masyarakat maupun oleh individu. pentingnya kesadaran diri akan perilaku menyimpang adalah salah satu jalan keluarnya. namun yang masih jadi hambatan adalah pelaku LGBT itu merasa benar atas perilakunya. padahal dalam islam sendiri sudah dijelaskan bahwa melakukan hubungan sex sesama jenis adalah perilaku menyimpang. tidak hanya dalam agama,didalam Norma dan Nilai yang terkandung dimasyarakat perilaku ini adalah perilaku yang menyimpang. pasalnya manusia dicip...

“ Melek Media, Di Era Rezim media”

Maraknya kejahatan serta seks bebbas yang dilakukan oleh masyarakat terutama anak muda saat ini seharusnya mendapatkan perhatian. Baik dari pemerintah maupun kaum intelektual itu sendiri. Apalagi banyak muda-mudi jaman sekarang ini sibuk memikirkan masalah hati (Pacaran) dibanding menndongkrak prestasi dalam kehidupan. Anak muda yang akan menjadi generasi penerus bangsa kedepannya. Apabila anak muda terus hanyut dengan arus modernisasi yang terjadi, apa jadinya negri ini kedepannya?. Mereka sibuk dengan masalah percintaan. Disibukan oleh arus globalisasi terkait 3F “Food, Fun, and Fashion”. Kejadian akhir-akhir ini yang paling memprihatinkan adalah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang sahabat kepada sahabatnya sendiri hanya karena saling berebut kekasih hati. Hal ini dilakukan oleh anak muda. Kejadian seperti ini sudah bukan menjadi Rahasia publik. Dan alangkah baiknya kita, sebagai masyarakat tidak menutup mata dengan fenomena seperti ini. Sudah saatnya pemerintah dan...