Transformasi Nilai Ramadan
Oleh: Tri Muryani*)
Satu Ramadhan tahun ini yang jatuh pada tanggal 6 juni 2016 dan bertepatan dengan hari Senin membuat kebanyakan masyarakat terutama kaum muslimin merasa antusias untuk menyambutnya. Beberapa persiapan dari makanan sampai jadwal kegiatan seperti buka bersama, telah di persiapkan selama bulan Ramadhan oleh masing-masing individu dan kelompok demi tujuan spiritual.
Menurut kuntowijoyo dalam bukunya islam sebagai Ilmu (2007) menerangkan bahwa ilmu tauhid tentang ketuhanan tidaklah berhenti pada konteks ketuhanan saja, meliankan ada tanggung jawab sosial seorang individu setelah ia beribadah kepada tuhannya yaitu tanggung jawab kepada realitas sosial yang ada. Seperti yang terkandung dalam Al-Quran surat Al-Imran (3): 110 tentang konsep humanisme, liberalisme, dan transendental.
Nilai-nilai spiritual dalam konsep bertauhid yang di masiv kan selama bulan Ramadhan memang terlihat bagus. Namun yang menjadi krisis sosial dikalangan masyarakat adalah ketika nilai-nilai spiritual seperti ini hanya di jadikan untuk mendekatkan diri kepada tuhan saja. Padalah, ada hal yang sama pentingnya yang harus dilakukan oleh manusia sebagai out put dari bertauhid. Yakni terjalinnya hubungan yang baik dengan sesama manusia.
Pada kenyataanya, hubungan dengan sesama manusia di negara ini masih terlihat pasif. Terbukti dari masih banyaknya masyarakat miskin serta kesenjangan yang terjadi dikalangan masyarakat. Data dari badan pusat statistik mencatat bahwa pada bulan september tahun 2015 jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran perkapita per bulan dibawah garis kemiskinan) di Indonesia mencapai 28.51 juta orang (11,13%).
Data kemiskinan tersebut menjadi masalah tersendiri bagi bangsa ini. Perlu adanya transformasi nilai spiritual di bulan Ramadhan menjadi nilai-nilai sosial di masyarakat kita sebagai salah satu jalan keluar mengatasi kesenjangan yang ada. Apalagi selama bulan Ramadhan, antusias masyarakat untuk beribadah demi meraih pahala lebih tinggi di banding bulan-bulan selainnya.
Antusias masyarakat di bulan Ramadhan bisa di aplikasikan tidak hanya demi spiritual semata. Namun, setelah masyarkat keluar dari masjid, dari pengajian, atau setelah selesai membaca al-quran, masyarakat mampu menebar kebaikan kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Membagi makanan (baca: rezeki) kepada tetangga-tetangganya atau ia menerapkan ilmu hasil dari kajiannya untuk mengajak kepada kebajikan dan melarang orang berbuat kerusakan.
Tranformasi nilai-nilai spiritual menjadi nilai-nilai sosial perlu di pahamkan oleh seluruh masyarakat. Tentunya tidak hanya berjalan di bulan Ramadhan saja, namun setelahnya juga harus seperti itu. Setiap individu harus berusaha keras agar tidak di jangkiti oleh penyakit lupa yang terjadi pasca Ramadhan. Antara lain, melupakan pentingnya beribadah sehingga ibadahnya tidak se-masiv bulan Ramadhan. Dan tidak kalah penting juga selain tidak lupa beribadah juga tidak lupa akan pentingnya berbagi.
Konsep transformasi inilah yang diharapkan bisa menjadi jalan keluar bagi persoalan bangsa terutama masalah kemiskinan. Selain kemiskinan, masyarakat Indonesia juga diharapkan akan memiliki tingkat kebahagiaan yang tinggi dengan kesadaran berbagi dan berbuat kebaikan. Sehingga bangsa ini diharapkan menjadi bangsa yang makmur dengan sesungguhnya, yaitu masyarakat dengan kesadaran tinggi akan hubungan dengan tuhannya dan pengaplikasiannya kepada sesama manusia.
Tri Muryani
Tim Jurnalist Moeda Institute
Mahasiswa Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
* Tulisan ini telah di muat di Koran Swara Kampus Kedaulatan Rakyat Yogyakatya Edidi selasa kliwon 14 juni 2016
Komentar
Posting Komentar