Oleh: Tri Muryani*)
Akhir-akhir ini, banyak sekali berita yang muncul di media. Dari berita naiknya harga garam, kontroversi dana haji, kasus penyiraman air keras, hingga berita terkait banyaknya manusia yang bunuh diri. Yaa.. bunuh diri menjadi salah satu hobi manusia di dunia ini. Bahkan salah satu artis internasional yang tidak perlu diragukan lagi ke populerannya, pun melakukan bunuh diri. Tidak perlu saya sebut siapanya, silahkan update sendiri infonya.
Dedy Corbuzer dalam vlognya satu minggu lalu yang berjudul “Awkarin dan kasus bunuh diri” juga me-reaksi isu-isu terkait banyaknya manusia yang bunuh diri. Ya, termasuk pacarnya Awkarin. Intinya, secara psikologis, manusia yang memilih untuk bunuh diri mendapat tekanan psikologis yang tinggi, sehingga, seolah-olah dia tidak bisa menyelesaikan masalah hidupnya. Bunuh diri juga bisa terjadi karena genetik. Namun, bukan berarti masalah genetik ngga bisa diubah.
Yang jelas, ngga ada orang di dunia ini yang ngga punya masalah. Setiap orang pasti punya masalah. Entah masalah yang dilahirkan oleh diri sendiri maupun orang lain. Apa sih, orang hidup itu banyak sekali masukan dan kritikan. Mungkin saja itu bagian dari tekanan secara psikologis bagi seseorang. Sedangkan Durkheim, dalam kajiannya tentang bunuh diri, menjelaskan bahwa ekspektasi yang sangat tinggi dari masyarakat terhadap individu sehingga individu harus melakukan sesuai keinginan masyarakat menjadi salah satu faktor penyebab seseorang melakukan bunuh diri.
Hidup ini memang perlu masalah. Perlu, harus, atau memang sudah takdir. Pokoknya, masalah itu pasti ada. Judul di atas bukan berarti aku ingin bunuh diri. Lebih tepatnya, aku g ada waktu buat bunuh diri. Tulisan ini sangat ekstrim, karena setiap kali menulis, aku pasti akan memperhatikan isinya. Seperti orang bicara, setiap kali menulis, pertanggung jawaban juga ikut setelahnya. Misal, saat aku nulis tentang kebaikan, ya aku harus jadi orang baik. Nah, saat nulis bunuh diri, takutnya aku bunuh diri beneran. hehe
Tapi sayangnya, aku g ada waktu untuk itu. Serius, ini bukan soal sombong. Jangankan melakukan bunuh diri, untuk istirahat aja kurang. Karena aku sangat sibuk menjalani hidup dengan banyak orang yang selalu mendukungku. Aku sangat sibuk ingin mengetahui banyak hal dalam satu kali masa hidupku. Aku juga sangat sibuk untuk meraih kesuksesan, sehingga masalah kayak patah hati #eh , hampir aku lupa. Berarti kalau hampir, kadang-kadang inget lah,,
Belajar dari film Boss Baby sebuah film Hollywood bergenre Animasi, Drama dan Komedi yang dibintangi oleh Alec Baldwin, Steve Buscemi, Jimmy Kimmel dan Lisa Kudrow yang menceritakan tentang seorang bayi yang diproduksi oleh sebuah perusahaan. “Survival of the fittest” itulah statement awal dalam film tersebut. Seperti hukum rimba, siapa yang kuat ya dia akan menang. Begitu sebaliknya.
Memang harus memiliki cara pandang berbeda untuk menjadi manusia. Sibukanlah dirimu dengan karya. Dengan cita-cita besar tentang kebahagiaan. Jangan fokus dengan penderitaan, apalagi penghianatan. Era modern menuntutmu untuk berfikir cepat, tepat, kreatif, simple, dan yang jelas harus dilakukan dengan fun. Apabila tidak mampu, ya harus mampu. Kalau tetap tidak mampu, ya hukum rimba akan menentukan nansibmu. Maju sebagai pemenang, atau tenggelam lalu meninggal. Karena hukum rimba mengatakan yang kuat yang berhak bertahan hidup. Let’s Move On....
Komentar
Posting Komentar