Langsung ke konten utama

Berkata “Tidak” Tapi “Iya”, Berkata “Iya” Tapi “Tidak”



Oleh: Tri Muryani*)

Mungkin sebuah kebenaran,ketika Soe Hok Gie dalam bukunya menyatakan bahwa mengasingkan diri itu lebih baik dari pada menyerah kepada kemunafikan. Banyak mereka yang mempertaruhkan kebenarannya hanya sekedar pura-pura saja. Ingin terlihat seperti pahlawan, padahal sejatinya hidup yang dijalani penuh dengan kemunafikan bahkan berbuat apa-apa pun tidak.

Tidak ada sesuatu yang bisa meleburkan kelas-kelas apapun termasuk kelas sosial. Mereka yang ingin mewujudkan masyarakat sosialis dan menciptakan masyarakat tanpa kelas seperti yang di gagas oleh karl marx sejatinya merekalah yang melahirkan kelas sosial itu sendiri. Mereka yang berjuang mati-matian untuk orang lain sejatinya ia sedang memperjuangkan sesuatu untuk dirinya sendiri.

Kasihan mereka yang di atas sana. Meski bertahtakan emas di kepalanya namun hatinya penuh dengan dosa. Mereka membohongi bawahannya dengan kewibawaan yang sebenarnya tidak ada. Selalu bilang ini itu padahal ia hanya diam saja dan tidak melakukan apa yang ia bicarakan. Berkata iya tapi ternyata tidak, begitupun sebaliknya.

Aku tidak percaya, atas apa yang mereka perjuangkan. Kekuasaan itu hanya di pakai membela diri sendiri beserta kelompoknya. Di depan kelompok lain, ia seolah-olah malaikat tanpa dosa. Namun ternyata di balik itu mengumpat seenaknya. Itu yang dibilang di atas bahwa dunia ini penuh dengan kemunafikan dan kebohongan. Apa yang di tampilkan di depan tidak akan sama dengan apa yang di tampilkan di belakang.

Aku hanya ingin bersyukur kepada Tuhanku. Tuhan yang sebenar-benarnya meskipun telah di klaim oleh ilmu sosiologi bahwa tuhanku juga sebenarnya tuhan bentukan masyarakat. Namun aku tetap percaya dalam hatiku bahwa tuhanku yang telah membentukku sejauh ini bukan sebaliknya. Ilmu yang aku pelajari sedikit menyesatkan konsep tuhan, tapi biarlah yang terpenting aku harus melepaskan diri dari penjara kemunafikan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selamatkan Bangsa dengan Menolak LGBT

LGBT (lesbian,gay,bisexual,dan transgender)adalah salah satu jenis penyimpangan sosial. penyimpangan (deviant) ini terjadi karena pengaruh dari lingkungan sosial atau bisa jadi seseorang yang melakukannya dikarenakan pengaruh dari keluarganya.masalah sosial ini mendapatkan perhatian dari masyarakat. bahkan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa juga mengikuti rapat kerja dengan Komisi VIII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (16/02/2016). (sindonews.com). Masalah LGBT harus segera diatasi. baik oleh masyarakat maupun oleh individu. pentingnya kesadaran diri akan perilaku menyimpang adalah salah satu jalan keluarnya. namun yang masih jadi hambatan adalah pelaku LGBT itu merasa benar atas perilakunya. padahal dalam islam sendiri sudah dijelaskan bahwa melakukan hubungan sex sesama jenis adalah perilaku menyimpang. tidak hanya dalam agama,didalam Norma dan Nilai yang terkandung dimasyarakat perilaku ini adalah perilaku yang menyimpang. pasalnya manusia dicip...

Pendidikan dan Implementasi Pancasila

Pendidikan dan Implementasi Pancasila Oleh: Tri Muryani*) Bukanlah hal yang mudah, untuk mengimplementasikan pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dan bisa menjadi acuan bagi kemajuan bangsa Indonesia. Apalagi saat ini arus globalisasi begitu cepat menjangkiti negara-negara diseluruh dunia termasuk Indonesia. Arus demokratisasi, hak asasi manusia, neo-liberalisme, serta neo-konservatisme bahkan telah memasuki cara pandang dan berfikir masyarakat indonesia. Hal demikian bisa meminggirkan pancasila dan dapat menghadirkan sistem nilai dan idealisme baru yang bertentangan dengan kepribadian bangsa. Bahkan tidak hanya itu, pancasila sedikit demi sedikit telah terlupakan oleh masyarakat kita. Mulai dari banyaknya masyarakat yang tidak mengetahui kandungan pancasila, terutama masyarakat pedesaan yang sebagian besar kesulitan untuk mengakses pendidikan. Selain Dehumanisasi, dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya pun begitu. Banyaknya kasus korupsi yang menyeret tokoh politi...

Transformasi Nilai Ramadan

Transformasi Nilai Ramadan Oleh: Tri Muryani*) Satu Ramadhan tahun ini yang jatuh pada tanggal 6 juni 2016 dan bertepatan dengan hari Senin membuat kebanyakan masyarakat terutama kaum muslimin merasa antusias untuk menyambutnya. Beberapa persiapan dari makanan sampai jadwal kegiatan seperti buka bersama, telah di persiapkan selama bulan Ramadhan oleh masing-masing individu dan kelompok demi tujuan spiritual. Menurut kuntowijoyo dalam bukunya islam sebagai Ilmu (2007) menerangkan bahwa ilmu tauhid tentang ketuhanan tidaklah berhenti pada konteks ketuhanan saja, meliankan ada tanggung jawab sosial seorang individu setelah ia beribadah kepada tuhannya yaitu tanggung jawab kepada realitas sosial yang ada. Seperti yang terkandung dalam Al-Quran surat Al-Imran (3): 110 tentang konsep humanisme, liberalisme, dan transendental. Nilai-nilai spiritual dalam konsep bertauhid yang di masiv kan selama bulan Ramadhan memang terlihat bagus. Namun yang menjadi krisis sosial dikalangan masyaraka...