Jaringan Mahasiswa Sosiologi se-Jawa (JMSJ) berperan mewadahi Mahasiswa khususnya program studi di berbagai Universitas Di jawa tengah. Peran JMSJ sesungguhnya sangat penting bagi berkembangnya Ilmu Sosiologi di Indonesia. Karena sejatinya Ilmu Sosiologi sangat penting untuk membangun sebuah masyarakat tanpa kesenjangan. Di program studi inilah semua ilmu dipelajari, ada Sosiologi pembangunan, Politik, ekonomi, budaya bahkan Agama sekalipun.
JMSJ lahir dari semangat Mahasiswa Sosiologi untuk melebarkan sayapnya. Para pendiri JMSJ mengharapkan bahwa JMSJ bisa mempunyai relasi sebanyak-banyaknya terutama dengan sesama mahasiswa Sosiologi. Adanya JMSJ juga menumbuhkan rasa Semangat yang tinggi bagi mahasiswa Sosiologi untuk tetap memperdalam ilmunya. Mengingat minat akan Prodi Sosiologi ini bisa dibilang masih minim. (*data)
Awalnya Mahasiswa Sosiologi hanya mengadakan perkumpulan tanpa nama. Dari tahun 2003 sampai tahun 2006. di Kota Jogjakarta inilah para mahasiswa sosiologi berkumpul untuk melakukan kegiatan berdiskusi dan Sharing ilmu. Karena ranah sosiologi memang lebih Condong kepada keilmuan. Walau begitu, tidak menutup kemungkinan untuk mahasiswa sosiologi mempraktekan teori-teori yang telah didapatnya.
Sejarah JMSJ
Program kerja yang terakhir sebelum Mubes untuk pemilihan ketua baru baru saja deselenggarakan. Sedikit berbeda dengan organisasi lain, karena program kerja JMSJ yang terakhir adalah Makrab. Jika biasanya Makrab itu dilakukan diawal namun di JMSJ sendiri Makrab dilakukan di akhir Proker. Untuk JMSJ Korwil III diikuti oleh beberapa Universitas yang ada di Jogjakarta. Antara lain ada UIN Sunan Kalijaga, UGM, UNY, Universitas Atmajaya, serta Universitas Widyamataram.
Makarab yang diselenggarakan di Wisma Kepodang Kaliurang pada tanggal 2-3 april 2016 dengan tema “Unity in diversity” membawa kesan tersendiri bagi para mahasiswa sosiologi. Semangat untuk mempelajari ilmu Sosiologi bangkit kembali seketika mereka bertemu dengan banyak mahasiswa yang satu jurusan dengan basic yang berbeda. Karena setiap Univ memiliki basic Sosiologi tersendiri. Di UIN contohnya, ia mengambil Sosiologi Profetik. Dimana dengan metode pak Amin Abdullah tentang Intgrasi interkoneksi. Ini membuat Sosiologi di UIN tidak hanya mempelajari Sosiologi saja. Namun ada Interkoneksi dengan ilmu keagamaan. berbeda dengan Sosiologi UNY dengan basicnya pendidikan. Mungkin dalam pendidikan, integrasi dengan ilmu keagamaan akan sedikit berkurang atau bahkan tidak ada. Karena memang ranahnya adalah pendidikan.
Makrab JMSJ juga semakin menambah semangat dengan hadirnya Founding Fathers dari JMJS sendiri. Ada tiga perwakilan yang hadir, yaitu Aditya achmad atau sering di panggil mas Adit. Mantan ketua umum pertama JMSJ. Selain itu ada Nur Endah Januarti alumni sosiologi dari UNY tahun 2007 serta Dimas Yanuar dari Universitas brawijaya angkatan tahun 2006.
Mas Adit, mahasiswa sosiologi ankatan 2007 Universitas Gadjah Mada ini menceritakan sedikit tentang perjalanan berdirinya JMSJ. Menurutnya setelah terjadi gempa pada tahun 2006, perkumpulan tanpa nama yang di lakukan oleh mahasiswa sosiologi sempat mengalami Vacum. Baru kemudian tahun 2007 diundang kembali seluruh mahasiswa Sosiologi yang ada di Jogjakarta. Pada waktu itu mba endah dari Universitas Negri Yogyakarta yang ikut hadir di acara makrab juga mewakili mahasiswa Sosiologi dari UNY.
Setelah seminar selesai, mereka merencanakan untuk membentuk Asosiasi. Pertemuan pertama dilakukan di UIN, yang kedua di Atmajaya, pertemuan yang ketiga di UGM, keempat di UNY, baru kemudian diadakan pertemuan lagi di UIN sunan kalijaga. Dari pertemuan-pertemuan inilah muncul ide untuk membentuk sebuah Organisasi. Namun waktu itu menurut Dimas Yanuar dari Universitas brawijaya angkatan tahun 2006 masih menjadi perdebatan apakah ia akan menjadi Organisasi atau hanya sekedar Himpunan saja.
Setelah Kongres pertama dilakukan, dengan segala perdebatan yang memunculkan konflik internal dan pada waktu itu mba endah hadir sebagai Rekonsiliator dalam konflik akhirnya terpilihlah ketua umum Mas Adit sosiologi UGM angkatan 2007. Dari situlah penamaan “JARINGAN” di cetuskan.
Menurutnya nama ini lebih cocok untuk perkumpulan Mahasiswa Sosiologi. Mengingat misi awal dari perkumpulan ini memang untuk menyatukan, mempertemukan, serta menjembatani mahasiswa Sosiologi dari berbagai Universitas. Penamaan “Jaringan” ini lebih fleksible diunakan. Karena tidak ada ikatan tertentu untuk bergabung atau untuk tidak bergabung. Siapa saja bisa bergabung asal ia mahasiswa Sosiologi. Meskipun sisi negatifnya, bisa terjadi ketidakseriusan bagi mahasiswa itu sendiri apakah mau bergabung atau tidak.
JMSJ Menatap Masa Depan
Dalam sambutannya di acara makrab Akbar kemarin, pendiri JMSJ hanya menginginkan yang terbaik untuk kemajuan JMSJ terutama untuk mahasiswa Sosiologi itu sendiri. Jaringan ini di bentuk untuk membangun semangat bagi mahasiswa Sosiologi dan kesadaran bahwa pentingnya solidaritas antar mahasiswa Sosiologi dengan berbagai latarbelakang.
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari masyarakat. Ia bisa membaca situasi masyarakat dan dinamika yang terjadi. Fenomena sosial yang terjadi di masyarakat sekitar baik mikro maupun makro. Ia mempelajari di bidang apasaja. Baik sosial, ekonomi, politik, agama bahkan olahraga sekalipun. Lahirnya banyak Sosiolog di harap kan bisa memcahkan masalah yang terjadi di indonesia. Kesenjangan akibat perbedaan Ras serta Agama. Perbedaan kelas sosial yang berakibat pada marjinalisasi.
Sosiolog diharapkan kebijaksanaanya dalam melihat suatu fenomena. Apalagi dengan hadirnya Jaringan Mahasiswa yang mewadahi calon Sosiolog untuk terus berkarya. Progres ke arah pembangunan tidak hanya diharapkan oleh pendiri JMSJ namun sebagai harapan bagi bangsa Indoesia kedepannya. #SalamSosiologi.
Komentar
Posting Komentar